siang tadi waktu berhenti di lampu merah, aq melihat pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang sudah biasa : anak kecil meminta-minta. namun yang ini lain, sob. anak ini terlalu kecil untuk “bekerja”. menurut penerawanganku umurnya masih 6 th. anak ini dengan polosnya menarik-narik baju para pengendara dan menengadahkan tangan. namun kebanyakan menggeleng. dengan raut muka cemberut, dia menoleh seolah mengadu pada sesosok wanita-mungkin ibunya- yang menunggu di trotoar . sang ibu membalasnya dengan mengangguk seolah berkata, “gapapa nak, cari yang lain lagi sana”.. uh, rasanya gemes banget deh, kaya pengen nyulik anak ini terus diasuh sendiri di rumah..
hhh.. kadang aq berpikir, ternyata aq masih belum bisa berbuat apa-apa untuk masalah ini, masalah yang lebih dekat di depan mata. jika ditanya mengapa si ibu tega memperkerjakan si anak? mengapa mereka mengemis? dan mengapa-mengapa yang lain, ya pasti ga akan ketemu ujungnya.. barangkali jawabannya adalah satu peran kita yang menyebabkan itu semua. hm, apa coba?
kepedulian.
ya, ini tentang sebarapa jauh kepedulian kita pada masyarakat marginal. peduli itu tidak sama dengan turut prihatin kemudian lupa, ya. peduli itu setidaknya ada sesuatu yang kita perbuat. jika memberikan receh pada mereka, apa itu namanya juga peduli? hm, menurutku iya, tapi peduli yang tidak tepat. bukankah dengan memberikan receh akan menambah semangat si pengemis untuk terus mengemis? -ya, ya.. aq tahu sebagian dari kita mungkin dilema dalam hal ini, tpi sementara kita kesampingkan dulu ya-. jadi bagaimana seharusnya peduli itu?
peduli itu mendukung program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dengan cara membayar pajak (ga usah mikirin ni pajak bakal dikorupsi ga), karena bagian dari pendapatan negara yang satu ini oleh pemerintah akan dianggarkan untuk menghidupi rumah-rumah semacam panti untuk fakir miskin dan anak terlantar. tapi aq belum tahu pasti sih detailnya seperti apa.
peduli itu tidak memberikan receh pada pengemis di jalan (plangnya sudah terpasang di mana-mana kan?) melainkan memberikan pekerjaan kepada mereka. ya, semacam sosiopreneur gitu. berwirausaha sambil bersosial. wah, kalo ada entepreneur yang kaya gini perlu diekspos besar-besaran sama media supaya menginspirasi yang lain, hehe.
peduli itu menculik anak jalanan terus diasuh di rumah (hahaha, sinting).
baiklah, yang jelas peduli adalah berpikir jauh ke depan untuk mencari jalan keluar supaya tidak ada lagi pengemis di muka bumi ini (d muka indonesia khususnya). coba kita sejenak melirik negara saudara arab saudi. di sana kita tidak akan menemukan pengemis di jalan-jalan kan? yang ada malah masyarakat yang berlomba-lomba memberikan sedekah. kok bisa begitu ya? yah, itulah PR kita. mengubah mindset “meminta” menjadi “memberi”. mungkin bisa dimulai dari diri sendiri, diinspirasikan ke orang-orang terdekat kita, lalu diaplikasikan dalam sistem . wah, berat nih kalo ngomongin sistem. spertinya itu sudah masuk orbit kedua..hehee
mungkin cukup sekian celotehku, semoga ada follow up-nya